ARTIKEL

 

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

Pentingnya Kemampuan Komunikasi Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Banyak orang yang cerdas tetapi kurang beruntung dalam kehidupannya. Ketika Ia masih sekolah selalu menjadi juara kelas, namun setelah menjalani kehidupan yang sebenarnya Ia selalu mengeluh, karena nasibnya kurang beruntung seperti rekan-rekannya yang dulu hanya memperoleh nilai pas-pasan ketika sekolah.

Ternyata dalam kehidupan ini, dengan hanya bermodalkan kecerdasan Intelektual saja belumlah cukup. Memiliki kecerdasan Intelektual yang tinggi dan super belum tentu dapat menjamin bahwa kehidupan seseorang akan sukses, baik secara material maupun secara sosial. Sebaliknya, seseorang yang hanya memiliki kecerdasan intelektual pas-pasan ternyata bisa menjadi sukses, baik dalam kehidupan berkarir, berkeluarga maupun kehidupan sosial masyarakat.

Banyak kita temui dalam lingkungan masyarakat kita, seseorang yang senang berdebat dan selalu ingin benar sendiri. Biasanya orang-orang seperti ini tidak begitu disukai oleh rekan-rekannya dan bahkan ada yang menjauhinya, karena ingin menghindar terjadinya kesalahpahaman. Memang benar, bahwa keterbukaan merupakan kunci terjalinnya hubungan yang harmonis. Namun, keterbukaan juga ada batas-batas koridor yang selayaknya kita ketahui. Menyampaikan sesuatu secara terbuka dan jujur, harus mempertimbangkan perasaan lawan bicara kita. Seseorang akan menerima kritikan dengan senang hati apabila disampaikan dengan gaya komunikasi yang baik dan benar, tidak menyinggung perasaan orang yang dikritik. Sebenarnya "Kritik" adalah salah satu faktor yang dapat menjadikan diri kita lebih baik. Jadi, sebenarnya kritik adalah faktor yang baik untuk kedua pihak, baik untuk memberikan kritik maupun yang menerima kritik. Karena dengan demikian, tujuan yang diharapkan akan dapat tercapai dengan baik. Kritik merupakan salah satu kunci menuju kesuksesan.

Mengutarakan kritik terhadap seseorang harus dilakukan dengan Gaya Komunikasi yang Persuasif. Kita harus mampu memahami perasaan lawan bicara, memahami apa yang disukainya maupun yang tidak disuka olehnya. Seseorang akan dengan senang hati apabila diajak bicara dengan penuh kelembutan dan kesabaran, meskipun topik pembicaraan adalah hal yang mengandung kritikan untuk dirinya. Dalam hal ini, tentunya kemampuan Berkomunikasi secara Persuasif merupakan salah satu Modal dalam menjalin hubungan sosial, baik dengan keluarga, teman kerja maupun dengan masyarakat luas. Untuk mampu melakukan komunikasi secara persuasif diperlukan waktu yang cukup untuk berlatih dan membiasakan. Oleh sebab itu, kami mengajak Anda untuk melatih diri menjadi Sosok yang Mampu Berkomunkasi Secara Persuasif. Mari bergabung dengan kami EMINENT STUDY, WA : 0812 8862 7999.

Salam Hangat.
Dr. Evita Arief, M.Psi.
Jakarta, 13 Juli 2018
===========================================================================

MENTAL SWITCHING TRAINING

Evita Arief secara rutin memberikan pelatihan Mental Switching kepada para karyawan PT. CHEVRON PASIFIC INDONESIA di Hotel Santika Bogor. Pelatihan diberikan demikian rupa, sehingga peserta merasa bersemangat, akrab dan termotivasi untuk ekerja lebih baik, dan siap menghadapi masa pensiun dengan bahagia, tanpa adanya post power sindrome. Pelatihan di lengkapi dengan beberapa permainan yang bertujuan meningkatkan kemampuan kerjasama. kepemimpinan, komunikasi, kejujuran, ketelitian, kesabaran dan lain-lain.


PELATIHAN PENGEMBANGAN KARAKTER DAN REVOLUSI MENTAL

Presiden Republik Indonesia dalam berbagai kesempatan selalu berpesan agar Bangsa Indonesia dapat melakukan Revolusi Mental secara benar dan nyata. Bangsa Indonesia yang sejak dahulu kala dikenal dengan bangsa yang berbudi luhur dan berakhlak mulia akhir-akhir ini sudah tidak terlihat lagi. Yang sering kita temui adalah orang-orang yang saling menghujat, mencemooh dan saling menjatuhkan. Orang-orang seperti ini sudah lupa dengan harga dirinya sendiri, demi untuk kepentingan pribadi rela memburuk-burukan dan menjatuhkan orang lain. Padahal perilaku seperti ini justru menjatuhkan "nilai pribadinya".

Orang-orang yang berbudi luhur adalah yang lebih mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan dirinya sendiri. Orang-orang yang berbudi luhur memiliki rasa empati yang mendalam, penuh kasih sayang, perhatian dan mau mengalah demi kebaikan bersama, ia tidak ingin orang lain bersedih apalagi sakit hati. Ia benar-benar menjaga perasaan orang lain dan sangat menghargai pendapat orang lain. Tidak memandang apakah lawan bicaranya orang yang lebih tua - sebaya atau lebih muda. Ia akan menjadi pendengar yang baik dan aktif. mau menerima pendapat orang dengan lapang dada. Orang-orang yang berbudi luhur merasa bahwa pendapat atau nasehat orang lain adalah suatu "pengayaan bagi dirinya". Nasehat dan pendapat orang lain justru memperkaya dirinya menjadi orang yang kaya dengan pengetahuan umum dan kaya dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang beragam.

Sebaliknya, ia juga mampu merespon dan berdialog dengan baik dan santun. Sebagai pendengar yang aktif, ia mampu mengutarakan ide-idenya secara bijak. Komentar yang diberikannya bersifat "motivasi". Ia mampu membangkitkan motivasi orang lain untuk berperilaku lebih baik dan produktif. Ide-ide yang dimiliki mampu diungkapkan secara benar dan santun, tidak memaksa agar orang lain mengikutinya.Kontrol dirinya sangat baik. Ada dua macam bentuk "kontrol diri". Para akhli psikologi menyebutnya dengan "Locus of Control". Yakni "External locus of control" dan "Internal locus of control".

Individu yang memiliki "External locus of control"

  • Secara psikologis, ia kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
  • Kurang responsif dengan kondisi orang lain.
  • Keinginannya rendah untuk mempelajari hal-hal baru.
  • Jika mengalami kegagalan ia akan mempersalahkan orang lain. Menurutnya kegagalannya adalah karena adanya pengaruh dan campur tangan orang lain. Namun sebaliknya, jika ia berhasil adalah karena hasil dirinya sendiri.
  • Seringkali pesimis, tidak percaya diri.
  • Kurang memiliki usaha untuk menjadi lebih baik.

Individu yang memiliki "Internal Locus of control"

  • Hubungan interpersonalnya sangat baik, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
  • Peduli dengan kesulitan orang lain.
  • Memiliki motivasi tinggi untuk mempelajari hal-hal baru.
  • Ia akan introspeksi diri jika mengalami kegagalan, dan berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberikan dukungan ketika ia berhasil dan sukses.
  • Optimis dan yakin dengan kemampuan dirinya.
  • Memiliki usaha yang keras untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan.

Marilah kita mulai merubah kebiasaan-kebiasaan buruk dalam diri kita. Jika diri kita memiliki salah satu dari "External locus of control", marilah segera kita ubah, agar kita menjadi individu yang disukai orang banyak dan diterima dimanapun kita berada.

Tulisan ini hanya sebagian kecil... sangat kecil mengenai usaha untuk melakukan revolusi mental. Lain waktu kami akan berbagi lagi dengan materi yang lebih mendalam dan luas. Terima kasih.

Last Updated on Friday, 13 July 2018 18:38

 

EMINENT STUDY

Eminent Study merupakan salah satu Lembaga Pelatihan Terbaik di Indonesia.
www.eminentstudy.com